Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah | Wahid Aqiqah | 081219009702

” Sebelum Ayah dan Bunda melaksanakan Acara Aqiqah atau Aqiqoh untuk Anak Tercinta, sebaiknya Ayah dan Bunda memahami terlebih dahulu mengenai Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah menurut beberapa pendapat dari Para Ulama “

 

Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah :

Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah merupakan salah satu hal yang penting diketahui dalam Tata Cara Aqiqah atau Akikah. Berikut penjeasan mengenai Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah, terdapat perbedaan pendapat dari Para Ulama mengenai Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah :

dalil hukum akikah ; seputar hukum akikah ; hukum akikah wajib atau sunnah ; hukum akikah dalam hadits

Berdasarkan hadits,

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diAqiqah atau Akikahi, maka sembelihlah (Aqiqah atau Akikah) untuknya” (HR. Bukhari no. 5472), juga berdasarkan hadits lainnya, sebagian ulama menyatakan bahwa Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah  itu Wajib, semacam ulama Zhohiriyah (Daud, Ibnu Hazm, dkk), dan Al Hasan Al Bashri.

Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah adalah Sunnah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah itu tidak Wajib dan juga tidak Sunnah. – Demikian dikatakan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Author

Hadits dari jumhur ulama yang menyatakan Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah adalah sunnah berpegang pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ

Barangsiapa yang senang untuk mengAqiqah atau Akikahi anaknya, maka lakukanlah.” Hadits ini menunjukkan bahwa Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah itu tidak wajib karena di sini dikatakan boleh memilih. Dalil Aqiqah atau Akikah ini adalah indikasi yang memalingkan perintah yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang Aqiqah atau Akikah kepada perintah sunnah.

Lalu bagaimana dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang menyatakan bahwa Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah tidak wajib dan tidak pula sunnah?

Ibnul Mundzir –sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath– mengatakan, “Ulama Hanafiyah (ashabur ro’yi) yang mengingkari sunnahnya Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah telah menyelisihi hadits-hadits shahih mengenai hal ini. Sebagian mereka berdalil dengan hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatho’ dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari ayahnya, ia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai Aqiqah atau Akikah. Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا أُحِبّ الْعُقُوق

Aku tidak menyukai Aqiqah atau Akikah”, seakan-akan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai penamaan Aqiqah atau Akikah. Lalu beliau bersabda,

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَد فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسَك عَنْهُ فَلْيَفْعَلْ

Siapa saja yang dilahirkan anak untuknya, maka ia suka dinusuk (diAqiqah atau Akikahi), maka lakukanlah.”

Dalam riwayat Sa’id bin Manshur, dari Sufyan, dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari pamannya, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai Aqiqah atau Akikah sedangkan beliau di mimbar di Arofah, lalu beliau menyebutkan semacam tadi.” Hadits ini pun memiliki penguat dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dikeluarkan oleh Abu Daud. Dua hadits ini dikuatkan satu dan lainnya. Abu ‘Umr mengatakan, “Aku tidak mengetahui hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali dari dua riwayat ini.” Al Bazzar dan Abusy Syaikh juga telah mengeluarkan hadits tentang Aqiqah atau Akikah dari Abu Sa’id, namun hadits tersebut bukanlah jadi hujjah bagi yang menyatakan tidak disyari’atkannya Aqiqah atau Akikah. Bahkan akhir hadits jelas-jelas menetapkan disyariatkannya Aqiqah atau AkikahSedangkan yang dimaksud dalam hadits adalah lebih utama menyebut Aqiqah atau Akikah dengan nasikah atau dzabihah, dan dilarang menyebutnya dengan Aqiqah atau Akikah. Telah dinukil dari Ibnu Abid Dam dari beberapa sahabat mengenai penamaan semacam ini sebagaimana tidak disukai pula menyebut Isya dengan ‘atamah.”

 

Kesimpulan: Aqiqah atau Akikah adalah suatu yang disyariatkan tidak sebagaimana pendapat ulama Hanafiyah. Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah berkisar antara Wajib dan Sunnah. Sedangkan kami sendiri lebih cenderung pada pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah adalah Sunnah. Namun sudah sepantasnya bagi orang yang mampu yang diberi kelebihan rizki oleh Allah Ta’ala tidak meninggalkan syari’at yang mulia ini.

 

Sayyid Sabiq –rahimahullah– memiliki perkataan yang amat baik. Beliau berkata, “Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah adalah Sunnah Muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), walaupun si ayah (yang membiayai Aqiqah atau Akikah) adalah orang yang dalam keadaan sulit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap melakukan Aqiqah atau Akikah , begitu pula sahabatnya. Telah diriwayatkan oleh penyusun kitab sunan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengAqiqah atau Akikahi Al Hasan dan Al Husain masing-masing dengan satu ekor kambing. Sedangkan ulama yang mewajibkan Aqiqah atau Akikah adalah Al Laits dan Daud Azh Zhohiri.”

Sayyid Sabiq menyatakan bahwa jika si ayah dalam keadaan sulit sekalipun hendaklah melakukan Aqiqah atau Akikah. Apa yang beliau utarakan senada dengan perkataan Imam Ahmad –rahimahullah-. Imam Ahmad pernah berkata,

إذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا يَعُقُّ ، فَاسْتَقْرَضَ ، رَجَوْت أَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، إحْيَاءَ سُنَّةٍ .

Jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk meng Aqiqah atau Akikahi (buah hatinya), maka hendaklah ia mencari utangan. Aku berharap ia mendapatkan ganti di sisi Allah karena ia berarti telah menghidupkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Demikian artikel kami mengenai Hukum Akikah atau Hukum Aqiqah. Semoga Ayah dan Bunda bisa mendapatkan hikmah dari penjelasan ini dan lebih yakin dalam melaksanakan Acara Aqiqah atau Akikah untuk pautra atau ptri tercintanya. Aamiin

 

Artikel ini ditulis dengan mengambil rujukan dari :

 

hukum akikah untuk buah hati ; hukum akikah anak ; hukum akikah anak laki-laki ; hukum akikah anak perempuan

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *