Seputar Tata Cara Aqiqah | WAHID Aqiqah Bekasi | 081219009702

Berikut kami sampaikan Seputar Tata Cara Aqiqah atau Akikah :

 

Ayah dan Bunda ingin melaksanakan Acara Aqiqah atau Akikah untuk Anak tercinta, agar lebih memahami seputar Aqiqah atau Akikah silahkan disimak beberapa penjelasan berikut ini :

 

Pensyariatan Aqiqah atau Akikah :

Sebelum kita membahas seputar Tata Cara Aqiqah atau Akikah, berikut kami jelaskan terlebih dahulu mengenai Pensyariatan Aqiqah atau Akikah. Aqiqah atau Akikah  merupakan suatu amalan yang di syariatkan oleh kebanyakan Ulama seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, para fuqoha tabi’in, dan para ulama dari berbagai negeri. Berikut beberapa Dalil Aqiqah atau Akikah (hadits tentang Aqiqah atau Akikah) mengenai Pensyariatan Aqiqah atau Akikah :

Hadits Ummul Mukminin- ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ أَنَّهُمْ دَخَلُوا عَلَى حَفْصَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَسَأَلُوهَا عَنِ الْعَقِيقَةِ فَأَخْبَرَتْهُمْ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُمْ عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ. قَالَ وَفِى الْبَابِ عَنْ عَلِىٍّ وَأُمِّ كُرْزٍ وَبُرَيْدَةَ وَسَمُرَةَ وَأَبِى هُرَيْرَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَأَنَسٍ وَسَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَائِشَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَحَفْصَةُ هِىَ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيقِ.

Dari Yusuf bin Mahak, mereka pernah masuk menemui Hafshah binti ‘Abdirrahman. Mereka bertanya kepadanya tentang hukum Aqiqah atau Akikah. Hafshah mengabarkan bahwa ‘Aisyah pernah memberitahu dia, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih dua ekor kambing yang hampir sama (umurnya) untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.”

Hadits Ibnu ‘Abbas.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengAqiqah atau Akikahi Al Hasan dan Al Husain, masing-masing satu ekor gibas (domba jantan).” (HR. Abu Daud no. 2841. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

Hadits Salman bin ‘Amir.

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى »

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diAqiqah atau Akikahi, maka sembelihlah (Aqiqah atau Akikah) untuknya dan hilangkan gangguan darinya.”

Hadits Samuroh bin Jundub.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »

Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak tergadaikan dengan Aqiqah atau Akikahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Pengertian Aqiqah atau Arti Aqiqoh :

Dalam Tata Cara Aqiqah tidak luput juga untuk mengetahui mengenai Pengertian Aqiqah atau Arti Aqiqoh. Secara istilah, Aqiqah atau Akikah berarti sesuatu yang disembelih ketika mencukur gundul kepala si bayi. dinamakan Aqiqoh sebabnya karena menyembelihnya berarti  (يُعَقُّ), yaitu memotong. sedangkan rambut kepala si bayi dicukur pula ketika itu. Secara bahasa, Aqiqah atau Aqiqoh adalah sebutan untuk rambut yang berada di kepala si bayi ketika ia lahir.

 

Hukum Aqiqah atau Hukum Akikah :

Hukum Aqiqah atau Hukum Aqiqah merupakan salah satu hal yang penting diketahui dalam Tata Cara Aqiqah atau Akikah. Berikut penjeasan mengenai Hukum Aqiqah atau Hukum Akikah, terdapat perbedaan  pendapat dari Para Ulama.

Berdasarkan hadits,

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diAqiqah atau Akikahi, maka sembelihlah (Aqiqah atau Akikah) untuknya” (HR. Bukhari no. 5472), juga berdasarkan hadits lainnya, sebagian ulama menyatakan bahwa hukum Aqiqah atau hukum Akikah itu wajib, semacam ulama Zhohiriyah (Daud, Ibnu Hazm, dkk), dan Al Hasan Al Bashri.

Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum Aqiqah atau hukum Akikah adalah sunnah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum Aqiqah atau hukum Akikah itu tidak wajib dan juga tidak sunnah. –Demikian dikatakan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Author

>>> selanjutnya mengenai Hukum Aqiqah atau Hukum Aqiqah >>>

 

Tata Cara Aqiqah atau Akikah

Setelah memahami tentang hukum Aqiqah atau hukum Akikah menurut ulama’ fiqih, saatnya menjelaskan mengenai Tata Cara Aqiqah atau Akikah bayi. Tata cara Aqiqah atau Akikah telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau dengan penjelasan sebagai berikut :

 

Tata Cara Aqiqah >> Dilaksanakan pada Hari Ketujuh Kelahiran Bayi

Seperti yang dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah di atas, Tata Cara Aqiqah mengenai waktu untuk Aqiqah atau Akikah adalah pada hari ketujuh kelahiran bayi. Ini adalah Aqiqah atau Akikah yang paling afdhol.

Namun kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika melaksanakan atau tata cara Aqiqah atau Akikah sesudah atau sebelum hari ketujuh? Para ulama’ pun memiliki perbedaan pendapat.

Mengutip dari pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari mengungkapkan:

“Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ‘hari ketujuh kelahiran bayi’ sebagai dalil yang memperkuat pendapat bahwa Aqiqah atau Akikah harus dilaksanakan pada hari ketujuh. Dan orang yang melaksanakan Aqiqah atau Akikah sebelum ataupun sesudah waktu tersebut, maka gugur Aqiqah atau Akikahnya. Pendapat ini diperkuat dengan kata Imam Malik ‘Apabila bayi meninggal sebelum hari ketujuh, maka gugurlah sunnah Aqiqah atau Akikah bagi kedua orang tuanya.”

Sedangkan menurut jumhur ulama’ batas waktu Aqiqah atau Akikah diperbolehkan meskipun telah melewati hari ketujuh kelahiran bayi.

Mengutip situs rumaysho.com, ulama fiqih madzhab Syafi’i mengatakan bahwa Aqiqah atau Akikah tidak luput meskipun dilaksanakan setelah hari ketujuh. Namun sangat dianjurkan Aqiqah atau Akikah tidak diakhirkan hingga usia baligh. Apabila telah anak telah melewati usia baligh dan belum diAqiqah atau Akikahi, maka Aqiqah atau Akikahnya gugur dan anak dapat memilih untuk mengAqiqah atau Akikahi dirinya sendiri. (Al-Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/11011).

 

Tata Cara Aqiqah >> Aqiqah atau Akikah untuk Anak Laki-Laki 2 Ekor Kambing dan 1 Ekor Kambing untuk Anak Perempuan

Selanjutnya mengenai Tata Cara Aqiqah atau Akikah adalah mengenai jumlah hewan sembelihan. Seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi, jumlah hewan Aqiqah atau Akikah adalah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki. Sedangkan untuk anak perempuan, jumlahnya adalah 1 ekor kambing.

عن أم كرز قالت سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لا يضركم أذكرانا كن أم إناثا

Artinya: ‘Dari Ummu Kurz ia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Untuk seorang anak laki-laki adalah 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan adalah 1 ekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina.” (HR. Abu Daud no. 2834-2835, At-Tirmidzi no.1516, Ahmad 6/422, ‘Abdurrazzaq no. 7954)

.

Dari dalil Aqiqah atau Akikah mengenai jumlah hewan Aqiqah atau Akikah di atas, maka 2 jumlahnya adalah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan. Mengenai jenis kelamin kambing tersebut, boleh jantan ataupun betina. Sedamgkan mengenai tata cara aqiqah mengenai penyembelihannya bisa diikuti dalam artikel berikut : >>> syarat kambing aqiqah atau akikah >>>

 

Tata Cara Aqiqah >> Memberikan Nama pada Bayi

Tata Cara Aqiqah atau Akikah selanjutnya ketika bayi diAqiqah atau Akikahi, maka ia dapat diberikan nama yang baik. Hal ini karena nama merupakan doa sehingga sangat dianjurkan untuk memberikannya nama yang bagus menurut Islam.

Mengutip dari situs konsultasisyariah.com, dari Samurah, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallambersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

Artinya: “Setiap anak tergadai dengan Aqiqah atau Akikahnya, disembelih (kambing) di hari ketujuh, diberi nama, dan dicukur (rambut) kepalanya.” (HR. Nasai no. 4149, Abu Daud no. 2837, Tirmidzi no. 1522).

Dalam Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memberikan nama Abdullah dan Abdurrahman untuk anak laki-laki.

إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ

Artinya: “Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (HR. Muslim no. 2132)

 

Selain dua nama tersebut, ada nama-nama lain yang dianjurkan. Nama-nama tersebut merupakan bentuk penghambaan terhadap Asma’ul Husna ataupun nama para Nabi dan Rasul Allah.

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ

Artinya: “Dulu mereka memberi nama dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang sholeh dari kaum sebelum mereka”. (HR. Muslim no. 2135).

Sedangkan untuk anak perempuan, dapat diberikan nama istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengutip dari situs rumaysho.com, beberapa nama yang dianjurkan untuk anak perempuan adalah Khadijah, Saudah, Aisyah, Hafshoh, Zainab, Ummu Salamah Hindun, Juwairiyyah, Ummu Habibah Romlah, Shofiyah, dan Maimunah. (Kitab Shiroh Nabi, Ar-Rohiqul Makhtum).

 

Tata Cara Aqiqah >> Mencukur Rambut Bayi

Selanjutnya dalam Tata Cara Aqiqah atau Akikah adalah mencukur rambut bayi. Dalam hal ini, disunnahkan untuk mencukur rambut bayi pada hari ketujuh kelahirannya bersamaan dengan ditunaikan ibadah Aqiqah atau Akikah.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Salman bin Amir Ad-Dhabbi, Rasullullah shallallahu ‘alaihi bersabda:

مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

Artinya: “Setiap anak ada Aqiqah atau Akikahnya, sembelihlah Aqiqah atau Akikah untuknya dan buang kotoran darinya.” (HR. Bukhari no. 5471).

 

Tata Cara Aqiqah >> Memasak Daging Aqiqah atau Akikah dan Membagikannya

Terakhir dalam Tata Cara Aqiqah atau Akikah  adalah memasak daging Aqiqah atau Akikah sebelum membagikannya. Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat antara ulama’. Ada yang boleh membagikan daging Aqiqah atau Akikah dalam keadaan mentah ataupun matang, ada pula yang menganjurkan untuk memasaknya terlebih dahulu.

Menurut Imam Ibnu Sirin dalam Kitab Al-Mughni menyebutkan:

قال محمد بن سيرين من التابعين: اصنع بلحمها كيفما شئت

Artinya: “Gunakanlah daging hewan Aqiqah atau Akikah seperti apa saja yang kamu suka”.

Sedangkan jumhur atau mayoritas ulama’ berpendapat bahwa daging Aqiqah atau Akikah yang dibagikan setelah matang, lebih dianjurkan. Mengutip dari situs bincangsyariah.com, menyebutkan:

واستحب كثير من اهل العلم ان لا يتصدق نيئا بل يطبخ ويتصدق به على الفقراء بارساله لهم

Artinya: “Kebanyakan ahlul ilmi mengajurkan agar daging hewan Aqiqah atau Akikah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir,” (kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah atau Akikah).

ويستحب الا يتصدق بلحمها نيئا بل يطبخه ويبعث الى الفقراء بالصحاف

Artinya: “Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan Aqiqah atau Akikah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib).

Dengan kata lain, maka Tata Cara Aqiqah atau Akikah dalam memberikan daging hewan sembelihan adalah dengan dimasak terlebih dahulu. Tujuannya agar orang yang menerima daging tersebut tidak perlu mengolahnya lagi. Selain itu, tujuan Aqiqah atau Akikah adalah sebagai hadiah atas kelahiran buah hati sehingga memasak daging Aqiqah atau Akikah lebih dianjurkan oleh jumhur ulama’. Waallahu a’lam.

 

Demikian ulasan mengenai Tata Cara Aqiqah atau Akikah beserta dalil-dalil Aqiqah atau Akikah  yang memperkuatnya. Semoga pembahasan kali ini memberikan manfaat bagi setiap Ayah dan Bunda yang akan mengadakan Acara Aqiqah atau Akikah. Aamiin.

 

Artikel ini ditulis dengan mengambil rujukan dari :

 

tata cara aqiqah anak laki-laki, tata cara aqiqah anak perempuan, tata cara aqiqah sederhana, tata cara aqiqah dalam islam, tata cara aqiqah rumaysho

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *